Monday, January 13, 2014

Haji Rasulullah (14)

Nabi SAW dan kaum muslimin kembali ke Madinah.
Setelah Nabi SAW dan kaum muslimin selesai mengerjakan ibadah hajji, maka pada tanggal 23 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah, Nabi SAW bersama kaum muslimin berangkat dari Makkah kembali ke Madinah. Ketika sampai pada suatu tempat yang bernama Khumm, maka berhentilah Nabi SAW bersama kaum muslimin di tempat tersebut. Dan di sinilah Nabi SAW berpesan kepada segenap kaum muslimin dengan pesan-pesan penting. Nabi SAW memuji kepada Allah dan menyanjung-Nya, menasehati dan memberi peringatan kepada segenap yang hadir, kemudian beliau bersabda :

اَمَّا بَعْدُ، اَلاَ اَيُّهَا النَّاسُ، فَاِنَّمَا اَنَا بَشَرٌ يُوْشِكُ اَنْ يأْتِيَ رَسُوْلُ رَبّى فَاُجِيْبَ. وَ اَنَا تَارِكٌ فِيْكُمْ ثَقَلَيْنِ اَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيْهِ اْلهُدَى وَ النُّورُ. فَخُذُوْا بِكِتَابِ اللهِ وَ اسْتَمْسِكُوْا بِهِ، فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَ رَغَّبَ فِيْهِ، ثُمَّ قَالَ: وَ اَهْلُ بَيتِى. اُذَكّرُكُمُ اللهَ فِى اَهْلِ بَيْتِى. اُذَكّرُكُمُ اللهَ فِى اَهْلِ بَيْتِى اُذَكّرُكُمُ اللهَ فِى اَهْلِ بَيْتِى. مسلم 4: 1873

Adapun sesudah itu, ketahuilah wahai segenap manusia, bahwasanya aku ini adalah manusia biasa, hampir-hampir datang (kepadaku) utusan Tuhanku lalu aku menyambutnya. Dan aku meninggalkan kepada kalian dua urusan yang berat. Yang pertama ialah Kitab Allah, di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, maka berpegang teguhlah kamu sekalian kepada kitab Allah. Lalu beliau menganjurkan supaya berpegang teguh kepada kitab Allah dan mencintainya. Kemudian beliau bersabda, Dan ahli baitku , aku peringatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku. Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku. Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku. [HR. Muslim juz 4, hal. 1873]
Kemudian Nabi SAW dan kaum muslimin meneruskan perjalanan ke Madinah. Setelah beliau melihat dan masuk kota Madinah, maka beliau berdzikir sebagai berikut :

آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ سَاجِدُوْنَ لِرَبّنَا حَامِدُوْنَ. صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهُ.

Kami orang-orang yang kembali, orang-orang yang bertaubat, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang bersujud dan kami memuji kepada Tuhan, Maha benar Allah yang telah memenuhi janji-Nya, Dia menolong hamba-Nya, dan menghancurkan orang-orang kafir yang bersekutu dengan sendiri-Nya.
Muslim meriwayatkan sebagai berikut :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا قَفَلَ مِنَ اْلجُيُوْشِ اَوِ السَّرَايَا اَوِ اْلحَجّ اَوِ الْعُمْرَةِ اِذَا اَوْفَى عَلَى ثَنِيَّةٍ اَوْ فَدْفَدٍ كَبَّرَ ثَلاَثًا ثُمَّ قَالَ: لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ اْلحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ سَاجِدُوْنَ لِرَبّنَا حَامِدُوْنَ. صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهُ. مسلم 2: 980
Dari Abdullah ibnu Umar, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW apabila  kembali dari peperangan, atau perjalanan perang, atau kembali dari hajji, atau kembali dari umrah, apabila jalan menanjak atau naik, beliau bertakbir tiga kali, kemudian berdoa (yang artinya) Tidak ada Tuhan selain Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Kami orang-orang yang kembali, orang-orang yang bertaubat, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang bersujud, dan kepada Tuhan kami, kami memuji. Maha benar Allah yang telah memenuhi janji-Nya, Dia menolong hamba-Nya, dan menghancurkan orang-orang kafir yang bersekutu dengan sendiri-Nya.. [HR. Muslim juz 2, hal. 980]
عَنْ يَحْيَى بْنِ اَبِي اِسْحَاقَ قَالَ: قَالَ اَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: اَقْبَلْنَا مَعَ النَّبِيّ ص اَنَا وَ اَبُوْ طَلْحَةَ وَ صَفِيَّةُ رَدِيْفَتُهُ عَلَى نَاقَتِهِ حَتَّى اِذَا كُنَّا بِظَهْرِ اْلمَدِيْنَةِ قَالَ: آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبّنَا حَامِدُوْنَ فَلَمْ يَزَلْ يَقُوْلُ ذلِكَ حَتَّى قَدِمْنَا اْلمَدِينَةَ. مسلم 2: 980

Dari Yahya bin Abu Ishaq, ia berkata : Anas bin Malik berkata : Kami pulang (menuju Madinah) bersama Nabi SAW, Abu Thalhah dan Shafiyah yang membonceng unta beliau. Ketika sudah berada di dekat Madinah, beliau berdoa (yang artinya) Kami pulang, kami bertaubat, kami beribadah, dan kami memuji kepada Tuhan kami. Beliau terus-menerus membaca doa itu sehingga kami tiba di Madinah. [HR. Muslim juz 2, hal. 980]
Akhirnya sampailah Nabi SAW dan kaum muslimin di Madinah dengan selamat, tidak mendapat halangan dan rintangan sedikitpun.
Nabi SAW mempersiapkan pasukan untuk menyerang Rumawi dan pengangkatan Usamah menjadi panglima perang.
Pada bulan Shafar tahun 11 Hijriyah Nabi SAW mempersiapkan angkatan perang untuk dikerahkan ke daerah perbatasan sebelah utara guna melumpuhkan kekuatan tentara Romawi yang membahayakan kaum muslimin.
Dalam tempo yang singkat beliau berhasil menyiapkan pasukan besar yang di dalamnya termasuk shahabat-shahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah bin Jaraah dan Saad bin Abi Waqqash.
Pada hari yang telah ditentukan, yaitu Senin tanggal 26 Shafar 11 Hijriyah, Nabi SAW memerintahkan kepada mereka supaya bersiap berangkat ke Ubna yang terletak dekat Mutah untuk menyerang Romawi.
Kemudian pada keesokan harinya, yaitu Selasa, Nabi SAW memanggil Usamah bin Zaid dan beliau mengangkatnya menjadi panglima perang untuk memimpin angkatan perang yang akan diberangkatkan itu.
Kemudian Nabi SAW bersabda kepada Usamah :

سِرْ اِلىَ مَوْضِعِ قَتْلِ اَبِيْكَ فَاَوْطِئْهُمُ اْلخَيْلَ، فَقَدْ وَلَّيْتُكَ هذَا اْلجَيْشَ. فَاَغِرْ صَبَاحًا عَلَى اَهْلِ اُبْنَى وَ حَرّقْ عَلَيْهِمْ وَ اَسْرِعِ السَّيْرَ تَسْبِقِ اْلاَخْبَارَ، فَاِنْ ظَفَّرَكَ اللهُ فَاَقْلِلِ اللُّبْثَ فِيْهِمْ وَ خُذْ مَعَكَ اْلاَدِلاَّءَ وَ قَدّم ِالْعُيُوْنَ وَ الطَّلاَئِعَ اَمَامَكَ. ابن سعد 2: 190

Pergilah kamu ke tempat terbunuhnya bapakmu, maka injaklah mereka dengan pasukan kuda. Sesungguhnya aku menyerahkan pimpinan pasukan ini kepadamu. Serbulah penduduk Ubna pada pagi hari dan bakarlah (hancurkanlah) mereka. Cepatlah berjalan agar kamu cepat mendapatkan berita-berita itu. Jika Allah memberi kemenangan kepadamu atas mereka, maka janganlah kamu berlama-lama tinggal bersama mereka. Bawalah bersamamu para penunjuk jalan dan dahulukanlah di depanmu mata-mata dan para penyelidik. [HR. Thabaqaat Ibnu Saad juz 2, hal. 190]
Perintah Nabi SAW tersebut maksudnya sebagai berikut :
1.  Usamah bin Zaid agar berangkat ke tempat ayahnya terbunuh dalam pertempuran di Mutah, yaitu diperbatasan Balqaa dan Daarum (dua tempat yang termasuk daerah Palestina).
2.  Usamah harus dapat menginjakkan kaki kuda yang dikendarainya di tempat tersebut.
3.  Usamah supaya memimpin tentara yang beliau kerahkan ke tempat tersebut.
4.  Agar menyerang musuh (penduduk Ubna) pada waktu Shubuh dan menghancur-binasakan mereka.
5.  Usamah agar berjalan cepat dan tepat dalam segala tugas yang harus diselesaikan agar tidak didahului oleh musuh.
6.  Jika mendapat kemenangan, maka tidak boleh berlama-lama tinggal diantara musuh, cukup sebentar saja, kemudian kembali ke Madinah.
7.  Supaya membawa penunjuk jalan agar tidak terlalu lama dalam perjalanan. Demikian pula harus mengirim mata-mata dan penyelidik lebih dahulu agar jangan sampai dijebak musuh.
Terjadi desas-desus yang kurang baik terhadap Usamah.
Selanjutnya pada hari Rabu, 28 Shafar tahun 11 Hijriyah, tiba-tiba Nabi SAW sakit panas dan sakit kepala yang sangat berat, padahal tentara muslimin sedang menunggu komando beliau. Mereka belum mau berangkat sebelum Nabi SAW memerintahkan mereka supaya berangkat.
Pada hari Kamis, 29 Shafar Nabi SAW memanggil Usamah. Dengan segera Usamah menghadap beliau, maka beliaupun menyerahkan sebuah bendera kepada Usamah sambil bersabda :
اُغْزُ بِسْمِ اللهِ، فِى سَبِيْلِ اللهِ، فَقَاتِلْ مَنْ كَفَرَ بِاللهِ. ابن سعد 2: 190

Berperanglah dengan nama Allah, di jalan Allah. Perangilah orang yang kufur kepada Allah. [Thabaqaat Ibnu Saad juz 2, hal. 190]
Walaupun demikian Nabi SAW belum memerintahkan Usamah untuk berangkat dengan pasukannya. Sedangkan tentara muslimin telah siap siaga untuk berangkat.
Usamah bin Zaid seorang pemuda yang umurny baru 17 tahun, sedangkan pasukan yang dipimpinnya terdiri dari orang-orang yang lebih tua dan lebih banyak pengalaman dari pada dia, terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, maka pengangkatan Usamah bin Zaid itu sangat mengherankan orang banyak. Seandainya bukan karena kethaatan dan penuhnya kepercayaan kaum muslimin kepada Nabi SAW, tentulah pengangkatan Usamah bin Zaid itu akan menimbulkan kekecewaan diantara mereka.
Walaupun demikian timbul juga perkataan-perkataan yang kurang menyenangkan hati Nabi SAW. Diantara percakapan mereka itu, Kenapa orang yang belum begitu banyak pengalaman itu yang disuruh memimpin dan mengepalai pasukan yang demikian besarnya, sedangkan di dalamnya ada orang-orang tua yang sudah banyak pengalamannya. Apa sebabnya Usamah yang beliau angkat menjadi panglima perang dalam menghadapi musuh yang demikian hebatnya di tempat yang jauh dan sulit itu ?. Mengapa anak muda ini yang beliau angkat menjadi amir memimpin orang-orang Muhajirin dan Anshar ?.
Setelah Nabi SAW mendengar yang demikian itu, beliaupun sangat marah. Beliau dalam keadaan sakit, dengan memakai ikat kepala, beliau keluar dari rumah dengan wajah yang tampak marah sekali. Kemudian beliau naik mimbar dan berpidato. Setelah beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu beliau bersabda :

اَمَّا بَعْدُ، اَيُّهَا النَّاسُ فَمَا مَقَالَةٌ بَلَغَنِى عَنْ بَعْضِكُمْ فِى تَأْمِيْرِ اُسَامَةَ؟ وَ لَئِنْ طَعَنْتُمْ فِى اِمَارَتِى اُسَامَةَ لَقَدْ طَعَنْتُمْ فِى اِمَارَتى اَبَاهُ مِنْ قَبْلِهِ. وَ اَيْمُ اللهِ، اِنْ كَانَ لِـْلاِمَارَةِ لَخَلِيْقًا وَ اِنَّ ابْنَهُ مِنْ بَعْدِهِ لَخَلِيْقٌ لِـْلاِمَارَةِ. وَ اِنْ كَانَ لَمِنْ اَحَبّ النَّاسِ اِلَيَّ، وَ اِنَّهُمَا لَمَخِيْلاَنِ لِكُلّ خَيْرٍ، وَ اسْتَوْصُوْا بِهِ خَيْرًا، فَاِنَّهُ مِنْ خِيَارِكُمْ. ابن سعد 2: 190

Adapun sesudah itu, wahai segenap manusia, mengapa ada perkataan-perkataan yang sampai kepadaku dari antara kalian tentang penunjukanku kepada Usamah ? Jika kalian mencela tentang pengangkatanku kepada Usamah menjadi pimpinan pasukan, maka sungguh kalian mencela tentang pengangkatanku terhadap bapaknya dahulu menjadi pimpinan pasukan. Demi Allah, jika ia (bapaknya) seorang yang pantas memimpin pasukan perang, maka sesungguhnya anaknyapun pantas pula menjadi pimpinan sepeninggalnya. Sesungguhnya ia adalah salah seorang yang paling aku cintai. Dan sesungguhnya keduanya menjadi tempat persangkaan bagi setiap kebaikan, sebab itu nasehatilah yang baik kepadanya, karena dia adalah termasuk orang pilihan diantara kalian. [Thabaqaat Ibnu Saad juz 2, hal. 190]
Setelah Nabi SAW turun dari mimbar, lalu beliau masuk rumah.
Setelah kaum muslimin mendengar pidato Nabi SAW tersebut, maka lenyaplah segala desas-desus yang tidak baik terhadap Usamah.
Kemudian Usamah bersama pasukan muslimin berangat menuju ke suatu tempat yang bernama Juruf, di pinggir kota Madinah. Di sana ada suatu lapangan yang luas untuk mengatur pasukan yang besar itu sambil menunggu perintah pemberangkatan dari Nabi SAW.
Bukhari meriwayatkan sebagai berikut :

عَنْ سَالِمٍ عَنْ اَبِيْهِ اِسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ ص اُسَامَةَ، فَقَالُوْا فِيْهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: قَدْ بَلَغَنِى اَنَّكُمْ قُلْتُمْ فِى اُسَامَةَ وَ اِنَّهُ اَحَبُّ النَّاسِ اِلَيَّ. البخارى 5: 145

Dari Salim dari ayahnya (Abdullah bin Umar) ia berkata : Nabi SAW mengangkat Usamah bin Zaid (untuk memimpin pasukan), lalu orang-orang membicarakan tentang dia, lalu Nabi SAW bersabda, Telah sampai kepadaku bahwa kalian membicarakan tentang Usamah dan sesungguhnya dia adalah orang yang paling aku cintai. [HR. Bukhari juz 5, hal. 145]

عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ عُمَرَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص بَعَثَ بَعْثًا وَ اَمَّرَ عَلَيْهِمْ اُسَامَةَ ابْنَ زَيْدٍ فَطَعَنَ النَّاسُ فِى اِمَارَتِهِ فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ ص، فَقَالَ: اِن تَطْعَنُوْا فِى اِمَارَتِهِ فَقَدْ كُنْتُمْ تَطْعَنُوْنَ فِى اِمَارَةِ اَبِيْهِ مِنْ قَبْلُ، وَ اَيْمُ اللهِ اِنْ كَانَ لَخَلِيْقًا لِـْلاِمَارَةِ وَ اِنْ كَانَ لَمِنْ اَحَبّ النَّاسِ اِلَيَّ وَ اِنَّ هذَا لَمِنْ اَحَبّ النَّاسِ اِلَيَّ بَعْدَهُ. البخارى 5: 145
 
Dari Abdullah bin Umar RA, bahwasanya Rasulullah SAW mengirim satu pasukan dan beliau mengangkat Usamah sebagai pemimpinnya. Lalu orang banyak mengecam kepemimpinannya. Maka Rasulullah SAW berdiri dan bersabda, Jika kalian mengecam kepemimpinannya, maka kalian benar-benar telah mengecam kepemimpinan ayahnya sebelum itu. Demi Allah, sesungguhnya dia (Zaid bin Haritsah) benar-benar pantas sebagai pemimpin, dan sesungguhnya ia termasuk orang yang paling aku cintai, dan sesungguhnya orang ini (Usamah) benar-benar termasuk orang yang paling aku cintai sesudahnya. [HR. Bukhari juz 5, hal. 145] 



Laa Ikraha, Hanya Allah Yang Maha Mengetahui,

وَ اللهُ اَعْلُمُ