Firman Allah SWT :
وَ
الَّذِيْنَ
يَرْمُوْنَ
اْلمُحْصنتِ
ثُمَّ لَمْ
يَأْتُوْا
بِاَرْبَعَةِ
شُهَدَآءَ
فَاجْلِدُوْهُمْ
ثَمنِيْنَ
جَلْدَةً وَّ
لاَ تَقْبَلُوْا
لَهُمْ
شَهَادَةً
اَبَدًا، وَ
اُولئِكَ
هُمُ
اْلفسِقُوْنَ.
اِلاَّ
الَّذِيْنَ
تَابُوْا
مِنْ بَعْدِ
ذلِكَ وَ
اَصْلَحُوْا،
فَاِنَّ
اللهَ
غَفُوْرٌ
رَّحِيْمٌ. النور:4-5
Dan orang-orang yang menuduh
wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat
orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera,
dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka
itulah orang-orang yang fasiq. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu
dan memperbaiki dirinya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
[QS. An-Nuur : 4-5]
Hadits Nabi SAW :
عَنْ
عَائِشَةَ رض
قَالَتْ:
لَمَّا
اُنْزِلَ
عُذْرِى
قَامَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص عَلَى
اْلمِنْبَرِ
فَذَكَرَ
ذلِكَ وَ
تَلاَ
اْلقُرْآنَ،
فَلَمَّا نَزَلَ
اَمَرَ
بِرَجُلَيْنِ
وَ امْرَأَةٍ فَضُرِبُوْا
حَدَّهُمْ.
الخمسة الا
النسائى
Dari ‘Aisyah RA ia berkata,
“Setelah diturunkan (ayat tentang) pembebasanku (dari tuduhan berzina),
maka Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar, kemudian beliau menyebutkan hal itu
dan membaca Al-Qur’an. Setelah beliau turun (dari mimbar), lalu
memerintahkan (menghukum hadd kepada dua orang laki-laki dan seorang perempuan,
kemudian mereka didera sebagai hukuman hadd”. [HR. Khamsah kecuali Nasai].
عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ
اَنَّ
رَجُلاً مِنْ
بَكْرِ بْنِ
لَيْثٍ اَتَى
النَّبِيَّ ص
فَاَقَرَّ
اَنَّهُ
زَنَى
بِامْرَأَةٍ
اَرْبَعَ مَرَّاتٍ،
فَجَلَدَهُ
مِائَةً وَ
كَانَ بِكْرًا،
ثُمَّ
سَأَلَهُ
اْلبَيِّنَةَ
عَلَى
اْلمَرْأَةِ
فَقَالَتْ:
كَذَبَ وَ
اللهِ يَا رَسُوْلَ
اللهِ،
فَجَلَدَهُ
حَدَّ اْلفِرْيَةِ
ثَمَانِيْنَ.
ابو داود
Dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya
ada seorang laki-laki dari bani Bakr bin Laits datang kepada Nabi SAW lalu
mengaku bahwa dia telah berbuat zina dengan seorang wanita (dengan menyebut
nama wanita itu), dia mengatakan hingga empat kali pengakuan. Maka beliau
menderanya seratus kali, karena dia seorang jejaka. Kemudian beliau menanyakan
bukti tuduhannya terhadap wanita tersebut. Lalu wanita itu berkata, “Dia
berdusta, demi Allah wahai Rasulullah”. Kemudian beliau menderanya lagi
80 kali atas tuduhan tersebut. [HR. Abu Dawud]
عَنْ اَبِى
هُرَيْرَةَ
رض قَالَ:
سَمِعْتُ اَبَا
اْلقَاسِمِ ص
يَقُوْلُ:
مَنْ قَذَفَ
مَمْلُوْكَهُ
يُقَامُ
عَلَيْهِ
اْلحَدُّ يَوْمَ
اْلقِيَامَةِ
اِلاَّ اَنْ
يَكُوْنَ كَمَا
قَالَ. احمد و
البخارى و
مسلم
Dari Abu Hurairah RA ia berkata : Aku pernah mendengar Abul
Qasim SAW bersabda, “Barangsiapa menuduh budaknya (berzina), maka
kepadanya akan dikenakan hukuman hadd pada hari kiyamat nanti, kecuali kalau memang
tuduhannya itu benar seperti apa yang ia katakan”. [HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim].
عَنْ
عَمْرِو بْنِ
شُعَيْبٍ
عَنْ
اَبِيْهِ عَنْ
جَدِّهِ
قَالَ: قَضَى
رَسُوْلُ
اللهِ ص فِى
وَلَدِ
اْلمُتَلاَعِنَيْنِ
اَنَّهُ يَرِثُ
اُمَّهُ وَ
تَرِثُهُ
اُمُّهُ وَ
مَنْ رَمَاهَا
بِهِ جُلِدَ
ثَمَانِيْنَ
وَ مَنْ
دَعَاهُ
وَلَدَ زِنًا
جُلِدَ ثَمَانِيْنَ.
احمد
Dari ‘Amr bin Syu’aib
dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah menetapkan
anak (yang lahir) dari suami istri yang telah melaksanakan li’an, bahwa
anak tersebut berhak mewarisi ibunya dan diwarisi oleh ibunya. Dan barangsiapa
menuduh wanita tersebut berbuat zina, maka ia dedera delapan puluh kali. Dan
barangsiapa yang mendakwa anak itu sebagai anak zina, iapun harus didera
delapan puluh kali (juga)”. [HR. Ahmad].
عَنْ
اَبِى الزَّنَادِ
اَنَّهُ
قَالَ: جَلَدَ
عُمَرُ بْنُ
عَبْدِ
اْلعَزِيْزِ
عَبْدًا فِى
فِرْيَةٍ ثَمَانِيْنَ.
قَالَ اَبُو
الزَّنَادِ:
فَسَأَلْتُ
عَبْدَ اللهِ
بْنَ عَامِرٍ
بْنِ رَبِيْعَةَ
عَنْ ذلِكَ
فَقَالَ:
اَدْرَكْتُ
عُمَرَ ابْنَ
اْلخَطَّابِ
وَ عُثْمَانَ
وَ اْلخُلَفَاءَ
هَلُمَّ
جَرًّا مَا
رَأَيْتُ
اَحَدًا
جَلَدَ عَبْدًا
فِى فِرْيَةٍ
اَكْثَرَ
مِنْ اَرْبَعِيْنَ.
مالك فى
الموطأ
Dari Abu Zanad, bahwa ia berkata :
Umar bin Abdul Aziz pernah menghukum jilid dengan delapan puluh kali dera
kepada seorang budak dalam kasus tuduhan (zina). Abu Zanad berkata : Kemudian
aku bertanya kepada Abdullah bin Amir bin Rabi’ah tentang hal itu, maka
jawabnya, “Aku dapatkan Umar bin Khaththab, ‘Utsman bin Affan dan
khalifah-khalifah yang lain, maka aku tidak melihat seorangpun yang menghukum
jilid kepada seorang budak dalam kasus tuduhan (zina) yang melebihi empat puluh
dera”.
[HR. Malik dalam Muwaththa']
Keterangan :
Ulama telah sepakat bahwa penuduh
zina apabila tidak bisa mendatangkan empat orang saksi, ia harus dihukum dera
sebanyak 80 kali berdasarkan QS. An-Nuur : 4. Tetapi apabila yang menuduh itu
seorang budak, ulama berbeda pendapat. Yaitu ada yang berpendapat bahwa diapun
juga harus dihukum 80 kali dera, dan ada yang berpendapat dia hanya dikenai
hukuman separuhnya (40 kali dera).
Orang yang mengaku berzina dengan
seorang perempuan, tidak berarti menuduhnya.
عَنْ
نُعَيْمِ
بْنِ هُزَالٍ
قَالَ: كَانَ
مَاعِزُ بْنُ
مَالِكٍ
يَتِيْمًا
فِى حِجْرِ اُبَيٍّ،
فَاَصَابَ
جَارِيَةً
مِنَ اْلحَيِّ،
فَقَالَ لَهُ
اُبَيٌّ:
ائْتِ
رَسُوْلَ اللهِ
ص
فَاَخْبِرْهُ
بِمَا
صَنَعْتَ
لَعَلَّهُ
يَسْتَغْفِرُ
لَكَ.
فَاَتَاهُ
فَقَالَ: يَا
رَسُوْلَ
اللهِ اِنِّى
زَنَيْتُ،
فَاَقِمْ
عَلَيَّ
كِتَابَ
اللهِ.
فَاَعْرَضَ
عَنْهُ،
فَعَادَ فَقَالَ:
يَا رَسُوْلَ
اللهِ اِنِّى
زَنَيْتُ، فَاَقِمْ
عَلَيَّ
كِتَابَ
اللهِ.
فَاَعْرَضَ
عَنْهُ، ثُمَّ
اَتَاهُ
الثَّالِثَةَ
فَقَالَ: يَا
رَسُوْلَ
اللهِ اِنِّى
زَنَيْتُ،
فَاَقِمْ عَلَيَّ
كِتَابَ
اللهِ. ثُمَّ
اَتَاهُ
الرَّابِعَةَ
فَقَالَ: يَا
رَسُوْلَ
اللهِ اِنِّى زَنَيْتُ،
فَاَقِمْ
عَلَيَّ
كِتَابَ اللهِ.
فَقَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص:
اِنَّكَ قَدْ
قُلْتَهَا اَرْبَعَ
مَرَّاتٍ.
فَبِمَنْ؟
قَالَ: بِفُلاَنَةَ.
قَالَ:
ضَاجَعْتَهَا؟
قَالَ:
نَعَمْ. قَالَ
جَامَعْتَهَا؟
قَالَ:
نَعَمْ.
فَاَمَرَ
بِهِ اَنْ
يُرْجَمَ
فَخَرَجَ
بِهِ اِلَى اْلحَرَّةِ.
فَلَمَّا
رُجِمَ
فَوَجَدَ
مَسَّ
اْلحِجَارَةِ
جَزِعَ،
فَخَرَجَ
يَشْتَدُّ،
فَلَقِيَهُ
عَبْدُ اللهِ
بْنُ
اُنَيْسٍ، وَ
قَدْ اَعْجَزَ
اَصْحَابَهُ،
فَنَزَعَ
بِوَظِيْفِ
بَعِيْرٍ
فَرَمَاهُ
بِهِ،
فَقَتَلَهُ،
ثُمَّ اَتَى
النَّبِيَّ ص
فَذَكَرَ
ذلِكَ لَهُ
فَقَالَ:
هَلاَّ
تَرَكْتُمُوْهُ،
لَعَلَّهُ
يَتُوْبُ
اللهُ
عَلَيْهِ.
احمد و ابو داود
Dari Nu’aim bin Huzal ia
berkata : Adalah Ma’iz bin Malik seorang yatim di bawah asuhan Ubay, lalu
ia berzina dengan seorang perempuan dari suatu kampung. Kemudian Ubay berkata
kepadanya, “Pergilah kepada Rasulullah SAW kemudian beritahukanlah
kepadanya apa yang engkau perbuat, barangkali beliau akan memohonkan ampun
untukmu !”. Lalu ia datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Ya
Rasulullah, sesungguhnya aku telah berbuat zina maka laksanakan hukum Allah
atas diriku”. Kemudian Nabi SAW berpaling darinya, lalu Ma’iz
datang lagi dan berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina
maka laksanakanlah hukum Allah atas diriku”. Lalu Nabi SAW berpaling lagi
darinya. Kemudian Ma’iz datang lagi kepada beliau ke tiga kalinya dan
berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina maka
laksanakanlah hukum Allah atas diriku”. Kemudian ia datang lagi yang ke
empat kalinya dan berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina
maka laksanakanlah hukum Allah atas diriku”. Lalu Rasulullah SAW bersabda,
“Engkau telah mengucapkan pengakuanmu itu empat kali. Lalu dengan siapa
engkau berzina ?”. Ia menjawab, “Dengan si Anu”. Nabi SAW
bertanya, “Engkau menidurinya ?”. Ia menjawab, “Ya”.
Nabi SAW bertanya lagi, “Engkau mencampurinya ?”. Ia menjawab,
“Ya”. Kemudian diperintahkan untuk dihukum rajam. Kemudian beliau
membawanya keluar ke tanah berbatu. Tatkala ia dirajam dan merasakan benturan
batu-batu, ia pun kesakitan, lalu
lari karena sakit, kemudian Abdullah bin Unais menjumpainya dan dia
menganggap lemah kepada rekannya, lalu dia mencabut tulang betis unta dan melemparkannya kepada
Ma’iz sehingga mati. Kemudian dia datang kepada Nabi SAW lalu menyebutkan
hal tersebut kepada beliau. Maka Nabi SAW bersabda : “Mengapa tidak kamu
biarkan saja, barangkali ia mau tobat lalu Allah menerima tobatnya ?”. [HR. Ahmad dan Abu Dawud].
Hukum Li’an
Firman Allah SWT :
وَ
الَّذِيْنَ
يَرْمُوْنَ
اَزْوَاجَهُمْ
وَ لَمْ
يَكُنْ
لَّهُمْ
شُهَدَآءُ
اِلاَّ اَنْفُسُهُمْ
فَشَهَادَةُ
اَحَدِهِمْ
اَرْبَعُ
شَهدتٍ
بِاللهِ
اِنَّه
لَمِنَ الصّدِقِيْنَ.
وَ
اْلخَامِسَةُ
اَنَّ
لَعْنَتَ
اللهِ عَلَيْهِ
اِنْ كَانَ
مِنَ
اْلكذِبِيْنَ.
النور:6-7
Dan orang-orang yang menuduh isrinya
(berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka
sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama
Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah)
yang kelima, bahwa la’nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang
yang berdusta.
[QS. An-Nuur : 6-7]
وَ
يَدْرَؤُا
عَنْهَا
اْلعَذَابَ
اَنْ تَشْهَدَ
اَرْبَعَ شَهدتٍ
بِاللهِ
اِنَّه
لَمِنَ
اْلكذِبِيْنَ.
وَ
اْلخَامِسَةَ
اَنَّ
عَذَابَ
اللهِ عَلَيْهَا
اِنْ كَانَ
مِنَ
الصّدِقِيْنَ.
النور:8-9
Dan istrinya itu dihindarkan dari
hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah, sesungguhnya suaminya itu
benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa
laknat Allah atasnya, jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. [QS. An-Nuur : 8-9]
عَنْ
نَافِعٍ عَنِ
ابْنِ عُمَرَ
اَنَّ رَجُلاً
لاَعَنَ
امْرَأَتَهُ
وَ انْتَفَى
مِنْ وَلَدِهَا،
فَفَرَّقَ رَسُوْلُ
اللهِ ص
بَيْنَهُمَا
وَ اَلْحَقَ اْلوَلَدَ
بِاْلمَرْأَةِ.
الجماعة
Dari Nafi’ dari Ibnu
‘Umar, bahwasanya ada seorang laki-laki yang menuduh istrinya berzina
lalu berbuat li’an dan ia tidak mengakui anak yang dilahirkan istrinya,
kemudian Rasulullah SAW memisahkan antara keduanya dan menghubungkan anak
tersebut kepada ibunya.
[HR. Jamaah].
عَنْ
سَعِيْدِ
بْنِ
جُبَيْرٍ
اَنَّهُ قَالَ
لِعَبْدِ
اللهِ بْنِ
عُمَرَ: يَا
اَبَا عَبْدِ
الرَّحْمنِ،
اْلمُتَلاَعِنَانِ
اَ يُفَرَّقُ
بَيْنَهُمَا؟
قَالَ:
سُبْحَانَ اللهِ،
نَعَمْ. اِنَّ
اَوَّلَ مَنْ
سَأَلَ عَنْ ذلِكَ
فُلاَنُ بْنُ
فُلاَنٍ.
قَالَ: يَا
رَسُوْلَ
اللهِ،
اَرَأَيْتَ
لَوْ وَجَدَ
اَحَدُنَا
امْرَأَتَهُ
عَلَى
فَاحِشَةٍ
كَيْفَ يَصْنَعُ؟
اِنْ
تَكَلَّمَ
تَكَلَّمَ
بِاَمْرٍ
عَظِيْمٍ. وَ
اِنْ سَكَتَ
سَكَتَ عَلَى مِثْلِ
ذلِكَ. قَالَ:
فَسَكَتَ
النَّبِيُّ
ص، فَلَمْ يُجِبْهُ،
فَلَمَّا
كَانَ بَعْدَ
ذلِكَ اَتَاهُ
فَقَالَ:
اِنَّ
الَّذِى
سَأَلْتُكَ عَنْهُ
ابْتُلِيْتُ
بِهِ.
فَاَنْزَلَ
اللهُ عَزَّ
وَ جَلَّ
هذِهِ
اْلايتِ فِى
سُوْرَةِ النُّوْرِ
{ وَ
الَّذِيْنَ
يَرْمُوْنَ
اَزْوَاجَهُمْ}
فَتَلاَهُنَّ
عَلَيْهِ وَ
وَعَظَهُ وَ
ذَكَّرَهُ وَ
اَخْبَرَهُ
اَنَّ
عَذَابَ الدُّنْيَا
اَهْوَنُ
مِنْ عَذَابِ
اْلآخِرَةِ،
فَقَالَ: لاَ،
وَ الَّذِى
بَعَثَكَ
بِاْلحَقِّ
نَبِيًّا مَا
كَذَبْتُ
عَلَيْهَا.ثُمَّ
دَعَاهَا وَ
وَعَظَهَا وَ
اَخْبَرَهَا
اَنَّ
عَذَابَ
الدُّنْيَا
اَهْوَنُ
مِنْ عَذَابِ
اْلآخِرَةِ.
فَقَالَ لاَ،
وَ الَّذِى
بَعَثَكَ بِاْلحَقِّ
نَبِيًّا
اِنَّهُ
لَكَاذِبٌ.
فَبَدَأَ
بِالرَّجُلِ،
فَشَهِدَ
اَرْبَعَ
شَهَادَاتٍ
بِاللهِ.
اِنَّهُ
لَمِنَ الصَّادِقِيْنَ.
وَ
اْلخَامِسَةَ
اَنَّ لَعْنَةَ
اللهِ
عَلَيْهِ اِنْ
كَانَ مِنَ
اْلكَاذِبِيْنَ.
ثُمَّ ثَنَى
بِاْلمَرْأَةِ
فَشَهِدَتْ
اَرْبَعَ شَهَادَاتٍ
بِاللهِ.
اِنَّهُ
لَمِنَ
اْلكَاذِبِيْنَ
وَ
اْلخَامِسَةَ
اَنَّ غَضَبَ
اللهِ
عَلَيْهَا
اِنْ كَانَ
مِنَ
الصَّادِقِيْنَ.
ثُمَّ
فَرَّقَ
بَيْنَهُمَا.
احمد و البخارى
و مسلم
Dari Sa’id bin Jubair, bahwa
ia pernah bertanya kepada Abdullah bin Umar, “Hai Abu Abdurrahman, apakah
suami istri yang telah berli’an itu harus diceraikan antara keduanya
?”. Ia menjawab, “Subhaanallaah, ya !. Sesungguhnya pertama kali
orang yang bertanya tentang hal itu adalah Fulan bin Fulan”. Ia bertanya,
“Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu kalau salah seorang di antara kami
ini mendapati istrinya berbuat zina, apakah yang harus ia lakukan ? Jika ia
berbicara berarti berbicara tentang urusan besar dan jika ia diam berarti ia
mendiamkan perkara besar juga”. Ibnu Umar berkata, “Kemudian Nabi
SAW diam, tidak menjawabnya”. Kemudian ia datang lagi kepada Nabi SAW
lalu berkata, “Sesungguhnya yang kutanyakan kepadamu itu menimpa diriku sendiri”.
Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat-ayat dalam surat An-Nuur
“Dan orang-orang yang menuduh istri-istrinya (berzina) ....”.
Kemudian Nabi SAW membacakan ayat-ayat tersebut kepadanya dan menasehatinya
serta mengingatkannya dan memberitahu, bahwa adzab di dunia itu lebih ringan
daripada adzab di akhirat. Lalu orang itu berkata, “Tidak ! Demi Dzat
yang mengutusmu sebagai Nabi dengan benar, aku tidak berdusta atas
istriku”. Kemudian Nabi SAW memanggil istri orang itu seraya
menasehatinya dan memberitahu, bahwa adzab di dunia itu lebih ringan daripada
adzab di akhirat. Perempuan itu kemudian berkata, “Tidak ! Demi Dzat yang
mengutusmu sebagai Nabi dengan benar, suamiku itu dusta”. Lalu Nabi SAW
memulai dari si laki-laki. Laki-laki itu bersumpah dengan nama Allah empat kali
bahwa dia sungguh di pihak yang benar, dan ke limanya semoga laknat Allah akan
menimpa dirinya jika ia berdusta. Lalu RasulullahSAW beralih kepada si wanita,
kemudian wanita itu bersaksi dengan nama Allah empat kali bahwa sesungguhnya
suaminya itu berdusta, dan kelimanya semoga murka Allah ditimpakan kepadanya
jika suaminya itu benar. Lalu beliau menceraikan keduanya. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]
عَنْ
سَهْلِ بْنِ
سَعْدٍ اَنَّ
عُوَيْمِرًا
اْلعَجْلاَنِيَّ
اَتَى
رَسُوْلَ
اللهِ ص فَقَالَ:
يَا رَسُوْلَ
اللهِ،
اَرَأَيْتَ
رَجُلاً
وَجَدَ مَعَ
امْرَأَتِهِ
رَجًلاً،
اَيَقْتُلُهُ،
فَتَقْتُلُوْنَهُ،
اَمْ كَيْفَ
يَفْعَلُ؟
فَقَالَ رَسُوْلُ
اللهِ ص: قَدْ
نَزَلَ
فِيْكَ وَ فِى
صَاحِبَتِكَ
فَاذْهَبْ
فَأْتِ بِهَا.
قَالَ سَهْلٌ:
فَتَلاَعَنَا،
وَ اَنَا مَعَ
النَّاسِ
عِنْدَ رَسُوْلِ
اللهِ ص.
فَلَمَّا
فَرَغَا،
قَالَ عُوَيْمِرٌ:
كَذَبْتُ
عَلَيْهَا
يَا رَسُوْلَ اللهِ
اِنْ
اَمْسَكْتُهَا،
فَطَلَّقَهَا
ثَلاَثًا
قَبْلَ اَنْ
يَأْمُرَهُ
رَسُوْلُ
اللهِ ص،
قَالَ ابْنُ
شِهَابٍ:
فَكَانَتْ سُنَّةَ
اْلمُتَلاَعِنَيْنِ.
الجماعة الا الترمذى
Dari Sahl bin Sa’ad, bahwa sesungguhnya
‘Uwaimir Al-’Ajlaaniy pernah datang kepada Rasulullah SAW lalu
bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki
yang mendapati istrinya bersama laki-laki lain, apakah boleh ia membunuh
laki-laki itu atau kalian yang membunuhnya atau bagaimana ia harus berbuat
?”. Kemudian Nabi SAW menjawab, “Telah turun (ayat) tentang kamu
dan istrimu, maka pergilah dan bawalah istrimu kemari”. Sahl berkata :
Kemudian keduanya melakukan li’an, sedang aku bersama orang banyak di
sisi Rasulullah SAW. Setelah keduanya selesai, ‘Uwaimir berkata,
“Jika aku mempertahankannya berarti aku berdusta terhadapnya, ya
Rasulullah”. Lalu ia menthalaqnya tiga kali sebelum diperintah oleh
Rasulullah SAW. Ibnu Syihab berkata, “Begitulah aturan yang berlaku bagi
suami istri yang melakukan li’an”. [HR. Jamaah kecuali Tirmidzi].
و فى رواية
احمد و
البخارى و
مسلم،
فَقَالَ النَّبِيُّ
ص: ذَاكُمُ
التَّفْرِيْقُ
بَيْنَ كُلِّ
مُتَلاَعِنَيْنِ.
Dan dalam riwayat Ahmad, Bukhari dan
Muslim : Kemudian Nabi SAW bersabda, “Itulah bentuk perceraian antara
suami istri yang berli’an”.
